Penderita Diabetes Berisiko Alami Masalah Ginjal

Penderita diabetes atau kencing manis di negara ini berisiko untuk mengalami masalah ginjal. Ini terbukti ketika statistik menunjukkan 61 persen pasien baru merupakan penyumbang tertinggi untuk penyakit ginjal.

Kepala Departemen Nefrologi Hospital Kuala Lumpur (HKL), Datuk Dr. Ghazali Ahmad mengatakan, jumlah pasien baru ginjal yang harus menjalani perawatan dialisis meningkat lebih 6.000 orang setiap tahun sejak lima tahun terakhir, sedangkan pada tahun 2014 angka itu mencapai 7,055 orang.


"Dari 7,055 pasien yang didaftarkan tersebut, 61 persen adalah karena diabetes, 18 persen berasal dari tekanan darah tinggi, tiga persen disebabkan radang ginjal, satu persen lagi apakah polikistik, batu karang dan lain-lain, sementara 15 persen tidak diketahui penyebabnya.

"Berdasarkan pecahan umur, kelompok pasien yang paling tinggi peningkatannya adalah dari mereka yang berusia 55 tahun sampai 60 tahun ke atas," katanya ketika ditemui di HKL baru-baru ini.

Berdasarkan aliran tersebut, ia mengatakan pihaknya tidak mengharapkan penurunan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan dialisis dalam waktu dekat karena beberapa faktor diantaranya peningkatan persen rakyat dari golongan orang tua karena peningkatan harapan hidup rakyat Malaysia umumnya.

"Selain itu, penyebab lain adalah meningkatnya insiden penyakit tidak menular seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan obesitas disebabkan praktek gaya hidup serta pola makannya rakyat Malaysia yang kurang sehat," katanya.

Sementara itu jelas Dr. Ghazali, pertambahan jumlah pasien yang signifikan akan menyebabkan terjadi kemacetan di rumah sakit dan klinik publik akibat biaya perawatan mencuci darah atau hemodialisis yang tinggi di sektor swasta.

Tambahnya, melalui studi efektivitas biaya yang dilakukan 10 tahun lalu, pemerintah sudah menanggung biaya sekitar RM33,000 setahun untuk setiap pasien yang menjalani perawatan hemodialisis di rumah sakit umum termasuk biaya mesin cuci darah, alat guna lupus, suntikan dan obat-obatan dengan rata-rata melebihi RM200 setiap sesi pengobatan.

"Sekarang jumlah itu pasti meningkat sejalan dengan kenaikan biaya layanan dan utilitas lain termasuk peralatan, mesin, sistem pengobatan, air osmosis berbalik (RO), honorarium staf medis dan penanganan limbah klinis.

"Untuk perawatan hemodialisis, kita memiliki 120 pasien kronis dan lebih 50 pasien di bagian sub akut (perawatan sementara) sementara lebih 350 pasien ginjal lain menjalankan perawatan Peritoneal Dialisis secara rawat yang dilakukan di rumah," ujarnya.

Katanya, metode pengobatan secara Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD turut dipakai di rumah sakit umum dengan biaya yang lebih murah dibandingkan hemodialisis dan dapat dilakukan sendiri oleh pasien di rumah.

"Untuk pengobatan CAPD, pasien tidak perlu ke rumah sakit untuk menjalani perawatan dialisis. Pasokan peralatan guna lupus untuk CAPD akan dikirim ke kediaman masing-masing setiap bulan oleh perusahaan pemasok. Metode ini secara tidak langsung dapat menghemat biaya transportasi ke rumah sakit serta dapat mengurangi kemacetan di rumah sakit umum.

"Meskipun mereka harus melakukan CAPD empat kali setiap hari, masa pengobatan hanya setengah jam sampai 40 menit setiap sesi. Di rumah sakit swasta mereka tidak berlatih metode CAPD karena kurang menghasilkan keuntungan mengingat pasien tidak perlu datang ke tempat mereka, "katanya.
Share:

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © Obat Penghancur Batu Ginjal
Privacy Policy | Terms Of Service | Disclaimer